Mengenal Reagen Giemsa: Fungsi, Pengenceran, dan Perbandingan Konsentrasinya

Kalau bekerja di laboratorium, terutama pada pemeriksaan mikroskopis darah, nama Giemsa tentu sudah tidak asing lagi. Reagen ini sering digunakan untuk mewarnai […]

▤ Daftar Isi

    Kalau bekerja di laboratorium, terutama pada pemeriksaan mikroskopis darah, nama Giemsa tentu sudah tidak asing lagi.

    Reagen ini sering digunakan untuk mewarnai sediaan darah sehingga struktur sel darah dan parasit darah dapat terlihat lebih jelas di bawah mikroskop. Dalam pemeriksaan malaria, Giemsa bahkan menjadi salah satu pewarna utama untuk pemeriksaan sediaan darah tebal dan tipis. WHO memiliki prosedur khusus mengenai persiapan, pengenceran, pewarnaan, dan pengendalian mutu Giemsa.

    Namun ada satu bagian yang sering membuat bingung:

    Giemsa 10%, Giemsa 3%, 1:10, 1:20… sebenarnya apa bedanya?

    Mari kita bahas dari dasar.


    Apa Itu Reagen Giemsa?

    Giemsa stain adalah pewarna yang termasuk kelompok Romanowsky dan banyak digunakan untuk pemeriksaan mikroskopis darah.

    Dalam pemeriksaan hematologi dan parasitologi, pewarnaan Giemsa dapat membantu memperlihatkan:

    • eritrosit
    • leukosit
    • trombosit
    • inti sel
    • sitoplasma
    • struktur parasit darah

    Pada pemeriksaan malaria, Giemsa digunakan untuk membantu mendeteksi dan mengidentifikasi parasit pada sediaan darah. CDC juga mencantumkan Giemsa sebagai pewarna yang direkomendasikan untuk deteksi dan identifikasi parasit darah.

    Jadi, Giemsa bukan sekadar “pewarna darah”.

    Kualitas pewarnaannya sangat menentukan seberapa mudah kita melihat detail morfologi di bawah mikroskop.


    Giemsa Stock Solution dan Working Solution

    Sebelum membahas pengenceran, kita perlu membedakan dua istilah:

    1. Giemsa Stock Solution

    Ini adalah larutan stok/konsentrat yang digunakan sebagai bahan dasar untuk membuat larutan kerja.

    Stock solution tidak langsung digunakan untuk mewarnai sediaan darah pada metode yang dibahas di sini.

    2. Giemsa Working Solution

    Ini adalah Giemsa yang sudah diencerkan dan siap digunakan untuk proses pewarnaan.

    Pengencerannya dilakukan menggunakan larutan yang sesuai, terutama buffer dengan pH yang sesuai untuk metode yang digunakan.

    Dalam prosedur WHO untuk malaria, buffer yang digunakan umumnya berada pada pH 7,2. WHO juga mencatat bahwa beberapa produk komersial dapat memiliki kebutuhan pH yang berbeda sehingga kondisi optimal perlu mengikuti petunjuk produk dan divalidasi di laboratorium.


    Mengapa pH Penting?

    Giemsa bukan hanya soal berapa banyak pewarna yang kita masukkan.

    pH pengencer juga sangat berpengaruh terhadap kualitas pewarnaan.

    WHO merekomendasikan penggunaan buffered water dengan pH 7,2 untuk pewarnaan sediaan darah malaria.

    Jika kondisi pH tidak sesuai, hasil pewarnaan dapat berubah.

    Misalnya:

    • warna sel terlalu biru
    • warna terlalu merah
    • detail parasit kurang jelas
    • kontras antara inti dan sitoplasma kurang baik
    • morfologi menjadi lebih sulit dinilai

    Karena itu, jangan hanya berpikir:

    “Yang penting Giemsanya sudah diencerkan.”

    Tidak cukup.

    Jenis Giemsa, kualitas stock solution, buffer, pH, waktu pewarnaan, kualitas sediaan, dan kondisi preparasi semuanya dapat memengaruhi hasil.


    Pengenceran Giemsa: Apa Arti 10%?

    Menurut WHO, salah satu metode yang digunakan adalah rapid method dengan Giemsa 10%.

    Secara praktis, 10% v/v berarti:

    10 bagian Giemsa stock + 90 bagian pengencer

    Sehingga totalnya menjadi 100 bagian.

    Contohnya:

    Volume akhirGiemsa stockBuffer/pengencer
    10 mL1 mL9 mL
    20 mL2 mL18 mL
    50 mL5 mL45 mL
    100 mL10 mL90 mL

    WHO juga memberikan cara praktis untuk metode cepat dengan kira-kira 3 tetes Giemsa stock per 1 mL buffered water, tetapi untuk pekerjaan yang membutuhkan ketepatan volume, pengukuran volumetrik lebih dapat dikendalikan daripada mengandalkan ukuran tetesan.


    Bagaimana dengan Giemsa 3%?

    Untuk metode pewarnaan yang lebih lama, WHO menggunakan Giemsa 3%.

    Artinya:

    3 bagian Giemsa stock + 97 bagian pengencer

    Contohnya:

    Volume akhirGiemsa stockBuffer/pengencer
    10 mL0,3 mL9,7 mL
    20 mL0,6 mL19,4 mL
    50 mL1,5 mL48,5 mL
    100 mL3 mL97 mL

    WHO menjelaskan bahwa metode 3% digunakan untuk slow staining, sedangkan metode 10% digunakan untuk rapid staining. Pada metode 3%, waktu pewarnaan lebih lama, sekitar 30–45 menit dalam prosedur yang dijelaskan WHO.


    Perbandingan Giemsa 10% dan 3%

    Ini bagian yang paling mudah untuk diingat.

    KarakteristikGiemsa 10%Giemsa 3%
    KonsentrasiLebih tinggiLebih rendah
    MetodeRapid/cepatSlow/lambat
    Waktu pewarnaan WHO±8–10 menit±30–45 menit
    PenggunaanPemeriksaan cepat/rutin tertentuPewarnaan lebih lama
    Konsumsi stainLebih banyakLebih hemat per konsentrasi
    BufferpH 7,2 dalam metode WHOpH 7,2 dalam metode WHO

    WHO mencatat bahwa metode cepat 10% cocok ketika hasil cepat diperlukan, sedangkan metode 3% digunakan untuk pewarnaan lebih lama dan dapat memberikan kualitas pewarnaan yang baik untuk pemeriksaan malaria.


    Lalu Apa Arti 1:10?

    Nah, ini yang sering bikin bingung.

    Dalam praktik laboratorium, orang bisa mengatakan:

    “Giemsa 1 banding 10.”

    Tetapi kita harus memastikan cara mereka mendefinisikan perbandingan tersebut.

    Jika yang dimaksud adalah:

    1 bagian stock + 9 bagian pengencer

    maka totalnya menjadi 10 bagian.

    Itu secara matematis adalah:

    1/10 = 10%

    Jadi:

    1 : 10 → 10%, jika 1 bagian Giemsa merupakan 1 bagian dari total 10 bagian.

    Contoh:

    1 mL Giemsa + 9 mL buffer = 10 mL larutan 10%.


    Bagaimana dengan 1:20?

    Jika:

    1 bagian Giemsa + 19 bagian pengencer

    maka totalnya 20 bagian.

    Jadi:

    1/20 × 100% = 5%

    Contohnya:

    1 mL Giemsa + 19 mL buffer = 20 mL larutan 5%.


    Tabel Perbandingan Pengenceran Giemsa

    Supaya tidak perlu menghitung ulang setiap kali, berikut tabel sederhananya.

    PerbandinganGiemsa stockPengencerKonsentrasi akhir
    1 : 21 bagian1 bagian50%
    1 : 51 bagian4 bagian20%
    1 : 101 bagian9 bagian10%
    1 : 201 bagian19 bagian5%
    3 : 1003 bagian97 bagian3%
    1 : 501 bagian49 bagian2%
    1 : 1001 bagian99 bagian1%

    Tetapi ada satu catatan penting:

    Notasi rasio harus dijelaskan dengan jelas di SOP.

    Sebab ada orang yang menggunakan istilah “1:10” untuk maksud 1 bagian stock + 10 bagian pengencer, yang menghasilkan konsentrasi berbeda, yaitu sekitar 9,1%.

    Jadi untuk menghindari salah tafsir, lebih aman menuliskan:

    Giemsa 10% = 1 mL stock + 9 mL buffer

    daripada hanya menulis:

    Giemsa 1:10

    Ini hal kecil, tetapi di laboratorium hal kecil seperti ini bisa menghasilkan pewarnaan yang berbeda.


    Contoh Menghitung Pengenceran

    Misalnya kita ingin membuat 30 mL Giemsa 10%.

    Rumus sederhananya:

    Volume stock = konsentrasi × volume akhir

    Untuk 10%:

    10/100 × 30 mL = 3 mL

    Jadi:

    • Giemsa stock = 3 mL
    • Buffer = 27 mL
    • Total = 30 mL

    Contoh Giemsa 3%

    Kita ingin membuat 30 mL Giemsa 3%.

    3/100 × 30 = 0,9 mL

    Jadi:

    • Giemsa stock = 0,9 mL
    • Buffer = 29,1 mL
    • Total = 30 mL

    Sederhana, kan?


    Kenapa Tidak Membuat Satu Botol Giemsa Encer untuk Seharian?

    Nah, ini salah satu bagian penting dalam prosedur Giemsa.

    WHO menyebutkan bahwa Giemsa yang sudah diencerkan cepat kehilangan sifat pewarnaannya, sehingga larutan kerja sebaiknya dibuat segar sebelum digunakan. Larutan yang tersisa setelah proses pewarnaan tidak dianjurkan dikembalikan ke botol stok dan perlu dibuang sesuai prosedur laboratorium.

    Artinya, bukan:

    Pagi bikin 500 mL → dipakai sampai sore.

    Untuk prosedur yang mengikuti prinsip WHO, larutan kerja dibuat sesuai kebutuhan pemeriksaan.

    Ini juga membantu mengurangi variasi kualitas pewarnaan selama hari kerja.


    Giemsa Jangan Sembarangan Dikocok

    Stock Giemsa juga perlu diperlakukan dengan benar.

    WHO mencatat bahwa botol stain tidak sebaiknya dikocok sebelum digunakan, karena endapan dapat tersuspensi kembali dan kemudian menempel pada sediaan darah sehingga mengganggu pemeriksaan mikroskopis.

    Kalau ada endapan atau material yang perlu disaring, prosedur WHO memberikan langkah penyaringan stock sebelum dibuat menjadi working solution.

    Jadi bukan:

    “Kocok dulu biar rata.”

    Untuk Giemsa justru perlu hati-hati.


    Mengapa Sediaan Bisa Terlihat Terlalu Biru atau Terlalu Merah?

    Ketika hasil pewarnaan tidak bagus, jangan langsung menyalahkan mikroskop.

    Ada banyak faktor yang bisa berpengaruh:

    • konsentrasi Giemsa
    • pH buffer
    • kualitas stock stain
    • lama pewarnaan
    • kualitas air
    • kondisi slide
    • ketebalan sediaan
    • proses fiksasi
    • proses pencucian
    • penyimpanan reagen
    • kontaminasi atau endapan stain

    WHO secara khusus memiliki SOP untuk quality control Giemsa stock solution dan buffered water, yang menunjukkan bahwa kualitas reagen dan buffer memang merupakan bagian penting dari mutu pemeriksaan mikroskopis.


    Jangan Lupa: Sediaan Tebal dan Tipis Tidak Diproses Persis Sama

    Pada pemeriksaan malaria, kita mengenal:

    Sediaan darah tebal

    Digunakan terutama untuk meningkatkan peluang mendeteksi parasit karena darah terkonsentrasi pada area yang lebih kecil.

    Sediaan tebal tidak difiksasi dengan methanol.

    Sediaan darah tipis

    Mempertahankan morfologi sel darah dengan lebih baik dan membantu identifikasi spesies serta karakteristik parasit.

    Sediaan tipis difiksasi dengan methanol sebelum pewarnaan.

    WHO secara tegas memperingatkan agar methanol tidak mengenai sediaan tebal karena dapat memfiksasi film tersebut dan mengganggu proses yang diperlukan untuk pewarnaannya.


    Apakah Giemsa 10% Selalu Lebih Bagus daripada 3%?

    Tidak bisa disimpulkan begitu.

    10% bukan berarti otomatis lebih bagus.

    Begitu juga 3% bukan berarti lebih buruk.

    Keduanya digunakan untuk tujuan dan kondisi yang berbeda.

    WHO menjelaskan metode 10% sebagai metode cepat, sedangkan 3% sebagai metode lambat. Bahkan WHO merekomendasikan agar kondisi pewarnaan suatu produk komersial diuji untuk menentukan kombinasi konsentrasi dan waktu yang memberikan kualitas pewarnaan optimal pada kondisi laboratorium tersebut.

    Jadi kalau suatu laboratorium memiliki SOP:

    Giemsa 10%, 10 menit

    ikuti SOP tersebut selama metode tersebut sudah divalidasi untuk reagen yang digunakan.

    Jangan mengganti menjadi:

    “Saya bikin 3% saja karena katanya lebih bagus.”

    Karena reagen komersial yang berbeda dapat memberikan hasil berbeda pada kondisi yang sama.


    Ringkasan Pengenceran

    Kalau mau dibuat super singkat:

    Giemsa 10%
    1 mL Giemsa + 9 mL buffer

    Giemsa 5%
    1 mL Giemsa + 19 mL buffer

    Giemsa 3%
    3 mL Giemsa + 97 mL buffer

    Dan:

    1:10 = 10%
    jika maksud rasio adalah 1 bagian stock dalam total 10 bagian.

    1:20 = 5%
    jika 1 bagian stock dalam total 20 bagian.

    Namun untuk SOP laboratorium, lebih baik menuliskan volume dan konsentrasi secara eksplisit daripada hanya menggunakan rasio.


    Kesimpulan

    Giemsa merupakan salah satu reagen penting dalam pemeriksaan mikroskopis darah, terutama untuk pemeriksaan parasit darah seperti malaria.

    Kualitas pewarnaan tidak hanya ditentukan oleh jumlah Giemsa, tetapi juga oleh:

    konsentrasi + buffer + pH + waktu pewarnaan + kualitas sediaan + kondisi reagen.

    Dalam prosedur WHO untuk malaria, terdapat dua pendekatan utama:

    Giemsa 10% → rapid staining

    dan

    Giemsa 3% → slow staining.

    Yang paling penting adalah jangan hanya menghafal:

    “10% = 1:10.”

    Tetapi pahami apa yang dimaksud dengan rasionya.

    Karena 1 bagian Giemsa + 9 bagian buffer = 10%, sedangkan 1 bagian Giemsa + 10 bagian buffer bukan 10%.

    Kelihatannya cuma beda satu bagian.

    Di laboratorium, satu bagian itu bisa bikin hasil pewarnaan ikut berubah. 😄


    Referensi

    • World Health Organization. Malaria Microscopy Standard Operating Procedures — Preparation of Giemsa Working Solution.
    • World Health Organization. Giemsa Staining of Malaria Blood Films.
    • World Health Organization. Methods Manual for Laboratory Quality Control Testing of Malaria RDTs.
    • World Health Organization. Malaria Microscopy Quality Assurance Manual.
    • CDC DPDx. Blood Specimens — Staining.

    Bagikan: Facebook X / Twitter WhatsApp
    ♥
    DUKUNG INTSIA GROUP

    Bantu kami terus berbagi dan berkembang.

    Artikel dan tools IntsiaGroup dapat digunakan secara gratis. Jika terasa bermanfaat, Anda dapat memberikan dukungan sukarela untuk membantu biaya hosting dan pengembangan konten berikutnya.

    Dukungan bukan pembayaran konsultasi, layanan medis, atau pembelian produk.
    Dukung via Saweria →

    admin

    Penulis di Intsia Group. Berbagi pengetahuan, pengalaman, dan ide yang bermanfaat.