Mengenal Pemeriksaan LED (Laju Endap Darah): Prinsip, Metode, dan Interpretasinya

Laju Endap Darah (LED/ESR) adalah pemeriksaan yang mengukur kecepatan eritrosit mengendap. Kenali prinsip Westergren, faktor yang memengaruhi hasil, serta interpretasinya.

▤ Daftar Isi

    Ketika melihat hasil laboratorium, kita mungkin menemukan parameter bernama:

    LED — Laju Endap Darah

    Dalam bahasa Inggris pemeriksaan ini disebut Erythrocyte Sedimentation Rate (ESR) atau kadang cukup disebut sed rate.

    Kalau membaca singkatan “LED” tanpa konteks, mungkin ada yang langsung membayangkan lampu hemat energi.

    Tetapi di laboratorium, LED tidak menghasilkan cahaya.

    Yang dilihat justru:

    seberapa jauh eritrosit mengendap dalam waktu tertentu. 😄

    Meskipun prinsipnya terlihat sederhana, pemeriksaan ini sudah digunakan sangat lama untuk membantu menilai adanya proses inflamasi di dalam tubuh dan sampai sekarang masih ditemukan di berbagai laboratorium.


    Apa Itu Laju Endap Darah?

    Laju Endap Darah adalah pemeriksaan yang mengukur kecepatan eritrosit atau sel darah merah mengendap di dalam sampel darah yang telah diberi antikoagulan.

    Pada metode Westergren klasik, darah dimasukkan ke dalam tabung panjang dan dibiarkan berdiri tegak selama satu jam.

    Setelah itu, tinggi kolom plasma yang terbentuk di bagian atas diukur dalam milimeter.

    Hasilnya dilaporkan sebagai:

    mm/jam

    Misalnya:

    LED = 25 mm/jam

    Artinya setelah satu jam, terbentuk kolom plasma setinggi sekitar 25 mm di atas kumpulan eritrosit yang telah mengendap.

    MedlinePlus menjelaskan bahwa eritrosit normal biasanya mengendap relatif lambat. Pada keadaan inflamasi, eritrosit dapat lebih mudah berkumpul menjadi agregat sehingga menjadi lebih berat dan mengendap lebih cepat.

    Namun perlu langsung diingat:

    LED bukan pemeriksaan spesifik untuk satu penyakit tertentu.

    LED tinggi menunjukkan bahwa mungkin ada suatu proses yang memengaruhi sedimentasi eritrosit, tetapi tidak bisa sendirian menentukan penyebabnya.


    Mengapa Eritrosit Bisa Mengendap?

    Eritrosit mempunyai muatan negatif pada permukaannya.

    Secara normal, muatan tersebut membantu eritrosit saling menjauh sehingga tidak mudah menempel satu sama lain.

    Pada keadaan inflamasi, konsentrasi protein tertentu dalam plasma dapat berubah.

    Salah satu yang sangat berpengaruh adalah:

    fibrinogen.

    Imunoglobulin dan protein fase akut lainnya juga dapat ikut memengaruhi proses ini.

    Protein-protein tersebut mengurangi gaya tolak antareritrosit sehingga eritrosit lebih mudah beragregasi.

    Ketika eritrosit berkumpul, dapat terbentuk susunan seperti tumpukan uang logam yang disebut:

    Rouleaux

    Bayangkan satu keping uang logam dijatuhkan ke dalam cairan.

    Kemudian bandingkan dengan sepuluh keping yang sudah ditumpuk menjadi satu.

    Kelompok yang lebih besar cenderung mengendap lebih cepat.

    Prinsip sederhananya kurang lebih seperti itu.

    Semakin mudah eritrosit membentuk rouleaux, sedimentasinya dapat semakin cepat sehingga nilai LED meningkat.


    Metode Westergren

    Metode yang paling terkenal dalam pemeriksaan LED adalah:

    Metode Westergren

    International Council for Standardization in Haematology atau ICSH menetapkan metode yang berbasis Westergren sebagai metode rujukan untuk pengukuran ESR.

    Pada prinsipnya, darah dengan antikoagulan dimasukkan ke dalam pipet atau tabung Westergren yang panjang dan mempunyai skala.

    Tabung kemudian diletakkan:

    tegak lurus

    dan dibiarkan selama:

    1 jam.

    Eritrosit perlahan bergerak turun akibat gravitasi.

    Di bagian atas akan terbentuk plasma yang relatif jernih, sedangkan eritrosit terkumpul di bagian bawah.

    Tinggi kolom plasma setelah satu jam itulah yang dibaca sebagai hasil LED dalam mm/jam.

    Jadi ketika melihat tabung LED berdiri diam selama satu jam…

    petugas laboratoriumnya bukan lupa memeriksa sampel.

    Memang sampelnya yang sedang disuruh:

    “Diam dulu di situ.” 😆


    Sampel untuk Pemeriksaan LED

    Pemeriksaan LED menggunakan whole blood dengan antikoagulan.

    Dalam metode rujukan ICSH, darah dapat menggunakan EDTA yang kemudian diperlakukan sesuai prosedur referensi, atau darah dengan natrium sitrat pada rasio yang ditentukan untuk metode Westergren.

    Dalam praktik sehari-hari, sistem yang digunakan dapat berbeda antara satu laboratorium dengan laboratorium lainnya.

    Ada laboratorium yang menggunakan tabung khusus ESR dengan sitrat.

    Ada pula metode otomatis yang menggunakan sampel EDTA.

    Karena itu persyaratan sampel harus mengikuti:

    metode, alat, petunjuk produsen, dan SOP laboratorium masing-masing.

    Jangan hanya melihat tabungnya lalu berkata:

    “Biasanya di tempat saya pakainya ini.”

    Dalam laboratorium, kata “biasanya” tetap harus berteman dengan SOP. 😄


    Apakah Pasien Harus Puasa?

    Untuk pemeriksaan LED sendiri umumnya tidak membutuhkan persiapan khusus atau puasa.

    Namun jika LED diperiksa bersamaan dengan pemeriksaan lain yang membutuhkan puasa, pasien tetap perlu mengikuti persyaratan pemeriksaan tersebut.


    Berapa Nilai Normal LED?

    Tidak ada satu nilai rujukan LED yang bisa dipakai secara mutlak untuk seluruh orang dan seluruh laboratorium.

    Nilai LED dapat dipengaruhi oleh:

    usia, jenis kelamin, kondisi fisiologis, serta metode pemeriksaan.

    Secara umum, LED cenderung sedikit lebih tinggi pada perempuan dan meningkat seiring bertambahnya usia. StatPearls memberikan contoh nilai Westergren sekitar ≤15 mm/jam untuk laki-laki di bawah 50 tahun, ≤20 mm/jam untuk perempuan di bawah 50 tahun, dan batas yang lebih tinggi pada kelompok usia yang lebih tua. Namun sumber yang sama juga menekankan bahwa laboratorium harus menetapkan atau menggunakan nilai rujukannya sendiri.

    Karena itu ketika membaca hasil:

    gunakan nilai rujukan yang tercantum pada lembar hasil laboratorium.

    Bukan angka pertama yang ditemukan setelah mengetik “LED normal berapa?” di mesin pencari.


    Apa Artinya Jika LED Tinggi?

    LED tinggi berarti eritrosit mengendap lebih cepat dibandingkan yang diharapkan.

    Inflamasi merupakan salah satu penyebab penting.

    Peningkatan LED dapat ditemukan pada berbagai keadaan seperti infeksi, penyakit autoimun, vasculitis, penyakit ginjal, beberapa kanker, rheumatoid arthritis, dan berbagai proses inflamasi lainnya.

    Tetapi LED tinggi juga dapat dipengaruhi oleh faktor yang tidak selalu berarti seseorang mengalami infeksi.

    Misalnya:

    anemia, kehamilan, usia, dan beberapa perubahan komposisi darah.

    Jadi:

    LED tinggi ≠ pasti infeksi.

    Ini penting.

    Kalau semua LED tinggi langsung disebut infeksi, bakteri mungkin akan protes karena dituduh terus. 😆


    Mengapa Anemia Bisa Membuat LED Meningkat?

    Ini menarik dari sudut pandang hematologi.

    LED tidak hanya dipengaruhi protein plasma.

    Jumlah, ukuran, dan bentuk eritrosit juga ikut menentukan kecepatan sedimentasi.

    Pada anemia, jumlah eritrosit yang lebih sedikit dapat mempermudah proses pengendapan sehingga LED dapat menjadi lebih tinggi. Sebaliknya, pada polisitemia, jumlah eritrosit yang sangat tinggi meningkatkan viskositas dan dapat memperlambat sedimentasi.

    Karena itu ketika LED meningkat, hasil seperti:

    Hb, hematokrit, dan jumlah eritrosit

    juga menarik untuk diperhatikan.

    Jangan sampai kita sibuk mencari inflamasi sementara hematokrit pasien sedang berdiri di pojok sambil berkata:

    “Saya juga abnormal, lho.”


    Bentuk Eritrosit Juga Berpengaruh

    Untuk mengendap dengan cepat, eritrosit perlu dapat membentuk agregat atau rouleaux dengan baik.

    Kelainan bentuk eritrosit dapat mengganggu proses tersebut.

    Misalnya pada kondisi seperti:

    sickle cell disease atau sferositosis, pembentukan rouleaux dapat terganggu sehingga LED bisa lebih rendah daripada yang diperkirakan.

    Ini menunjukkan bahwa LED sebenarnya merupakan hasil interaksi banyak faktor.

    Bukan sekadar:

    Inflamasi masuk → angka LED keluar.


    Apa Artinya Jika LED Sangat Tinggi?

    Nilai LED yang sangat tinggi, misalnya lebih dari 100 mm/jam, lebih sering berkaitan dengan penyakit yang bermakna dan membutuhkan evaluasi lebih lanjut.

    Nilai sangat tinggi dapat ditemukan pada kondisi seperti infeksi berat, penyakit inflamasi tertentu, multiple myeloma, beberapa keganasan, giant cell arteritis, atau polymyalgia rheumatica.

    Namun:

    LED >100 mm/jam tetap bukan diagnosis.

    Hasil tersebut adalah tanda bahwa penyebabnya perlu dicari.

    Diagnosis:

    “LED tinggi”

    tentu tidak cukup.

    Itu seperti mendiagnosis seseorang dengan:

    “suhu tubuhnya panas.”

    Kita masih harus mencari tahu kenapa.


    Bagaimana Kalau LED Rendah?

    LED rendah biasanya tidak mendapat perhatian sebanyak LED tinggi.

    Namun nilai yang rendah dapat ditemukan pada keadaan seperti polisitemia dan beberapa kelainan bentuk eritrosit yang menghambat pembentukan rouleaux.

    Nilai rendah sendiri juga tidak otomatis berarti ada penyakit.

    Seperti pemeriksaan laboratorium lainnya, hasil harus dilihat bersama kondisi pasien.


    Faktor Preanalitik Sangat Penting pada LED

    Nah, ini bagian yang sangat menarik bagi orang laboratorium.

    Pemeriksaan LED terlihat sederhana tetapi sebenarnya cukup sensitif terhadap kondisi teknis.

    Ada beberapa hal yang dapat mengubah hasil secara bermakna.

    Posisi Tabung

    Tabung harus berada dalam posisi benar-benar vertikal.

    Jika tabung miring, eritrosit dapat mengendap lebih cepat sehingga hasil menjadi lebih tinggi.

    Data yang dirangkum StatPearls bahkan menyebut kemiringan sekitar 3° dapat meningkatkan hasil secara bermakna.

    Jadi:

    “Miring sedikit tidak apa-apa.”

    Pada beberapa pemeriksaan mungkin masih bisa dibicarakan.

    Untuk Westergren?

    Lebih baik ditegakkan saja. 😄


    Getaran

    Meja yang bergetar dapat mengganggu proses sedimentasi.

    Karena itu rak Westergren sebaiknya ditempatkan di lokasi yang stabil.

    Bayangkan tabung sedang mengendap tenang selama satu jam…

    lalu setiap beberapa menit mejanya diguncang.

    Hasilnya mungkin ikut:

    “Yah, terserah.”


    Suhu

    Suhu juga dapat memengaruhi sedimentasi.

    Suhu lingkungan yang lebih tinggi dapat menurunkan viskositas darah dan menyebabkan sedimentasi berlangsung lebih cepat.


    Keterlambatan Pemeriksaan

    Sampel yang terlalu lama dibiarkan sebelum diperiksa dapat mengalami perubahan bentuk eritrosit dan akhirnya memengaruhi hasil LED.

    Karena itu waktu penyimpanan dan pemeriksaan harus mengikuti prosedur metode yang digunakan.


    Sampel Membeku

    Jika terdapat clot pada sampel yang seharusnya mengandung antikoagulan, komposisi sel darah sudah tidak lagi sesuai untuk proses sedimentasi normal.

    Sampel seperti ini tentu perlu dievaluasi berdasarkan kebijakan penolakan spesimen masing-masing laboratorium.


    Volume Sampel

    Pada sistem yang menggunakan perbandingan darah dengan antikoagulan tertentu, volume sampel juga penting.

    Rasio yang tidak tepat dapat memengaruhi hasil.

    Karena itu garis volume pada tabung bukan sekadar:

    hiasan geometris dari pabrik.


    LED Manual dan LED Otomatis

    Sekarang banyak laboratorium menggunakan alat ESR otomatis.

    Beberapa alat dapat memberikan hasil jauh lebih cepat dibandingkan menunggu satu jam pada Westergren manual.

    Namun ada hal yang perlu diketahui:

    tidak semua alat otomatis benar-benar menunggu eritrosit mengendap selama satu jam.

    Beberapa teknologi mengukur karakteristik agregasi eritrosit pada fase awal kemudian menghitung hasil yang dibuat ekuivalen dengan ESR Westergren.

    ICSH bahkan memberikan rekomendasi khusus mengenai validasi metode alternatif karena beberapa metode otomatis dapat memberikan hasil yang berbeda dibandingkan Westergren.

    Jadi kalau satu pasien diperiksa di dua tempat dan LED-nya tidak benar-benar identik…

    jangan buru-buru berteriak:

    “Alatnya rusak!”

    Pertanyaan yang lebih baik:

    “Metode yang digunakan sama atau berbeda?”


    LED dan CRP: Apa Bedanya?

    LED sering dibicarakan bersama:

    CRP — C-Reactive Protein.

    Keduanya dapat digunakan untuk membantu menilai adanya inflamasi, tetapi sebenarnya mengukur hal yang berbeda.

    LED mengukur perilaku sedimentasi eritrosit, yang secara tidak langsung dipengaruhi perubahan protein plasma dan berbagai karakteristik eritrosit.

    Sedangkan CRP secara langsung mengukur konsentrasi C-reactive protein, salah satu protein fase akut.

    Kajian klinis menunjukkan ESR dan CRP sama-sama digunakan sebagai marker inflamasi, tetapi keduanya mempunyai karakteristik dan faktor pengganggu yang berbeda.

    CRP umumnya memberikan respons lebih cepat terhadap perubahan inflamasi akut.

    LED biasanya berubah lebih lambat dan dapat tetap meningkat lebih lama.

    Selain itu LED lebih mudah dipengaruhi oleh:

    usia, anemia, bentuk eritrosit, dan berbagai faktor noninflamasi.

    Karena itu LED dan CRP tidak harus selalu memberikan hasil yang sejalan.


    LED Tinggi Tetapi CRP Normal, Apakah Bisa?

    Bisa.

    Sebaliknya:

    CRP tinggi sementara LED belum meningkat

    juga dapat terjadi.

    Keduanya mengukur proses yang berbeda dan mempunyai dinamika berbeda.

    Karena itu jangan menganggap:

    LED dan CRP adalah saudara kembar yang harus selalu memakai pakaian sama.

    Mereka masih satu keluarga inflamasi…

    tetapi sifatnya berbeda. 😄


    Apakah LED Bisa Digunakan untuk Mendiagnosis Penyakit?

    LED lebih tepat digunakan sebagai pemeriksaan pendukung.

    MedlinePlus menegaskan bahwa ESR tidak dapat menentukan sendiri penyakit apa yang menyebabkan inflamasi. Hasilnya perlu dipertimbangkan bersama riwayat pasien, gejala, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium lainnya.

    Misalnya LED tinggi dapat mendorong evaluasi lebih lanjut menggunakan:

    darah lengkap, CRP, pemeriksaan mikrobiologi, fungsi ginjal, pemeriksaan imunologi, imaging, atau pemeriksaan lain sesuai kondisi pasien.

    Dengan kata lain:

    LED memberi petunjuk.

    Bukan jawaban final.


    Apakah LED Masih Berguna Sekarang?

    Dengan adanya CRP, prokalsitonin, analyzer modern, dan berbagai biomarker baru, mungkin muncul pertanyaan:

    “Kenapa LED masih diperiksa?”

    Salah satu alasannya adalah LED merupakan pemeriksaan yang sederhana, relatif murah, dan mempunyai sejarah penggunaan klinis yang sangat panjang.

    Pada beberapa penyakit inflamasi, LED juga masih digunakan untuk membantu pemantauan perjalanan penyakit.

    Teknologinya pun ikut berkembang melalui sistem ESR otomatis yang lebih cepat dan lebih tertutup sehingga dapat mengurangi pekerjaan manual serta risiko paparan sampel.

    Jadi meskipun metode Westergren sudah sangat tua…

    LED belum mendapat surat pensiun dari laboratorium. 😄


    Ringkasan Pemeriksaan LED

    ParameterKeterangan
    NamaLaju Endap Darah
    Bahasa InggrisErythrocyte Sedimentation Rate
    SingkatanLED / ESR
    SpesimenWhole blood dengan antikoagulan sesuai metode
    Metode rujukanWestergren
    PrinsipMengukur sedimentasi eritrosit
    Waktu Westergren klasik1 jam
    Satuanmm/jam
    Meningkat pada inflamasi?Sering, tetapi tidak selalu
    Spesifik untuk satu penyakit?Tidak
    Dipengaruhi bentuk/jumlah eritrosit?Ya
    Dipengaruhi faktor teknis?Ya

    Kesimpulan

    Laju Endap Darah (LED/ESR) adalah pemeriksaan yang mengukur kecepatan eritrosit mengendap di dalam darah antikoagulan.

    Pada metode Westergren, darah dibiarkan berdiri tegak selama satu jam, kemudian tinggi kolom plasma diukur dan dilaporkan dalam mm/jam. Westergren tetap menjadi dasar metode rujukan menurut ICSH.

    Peningkatan protein plasma seperti fibrinogen dapat mendorong eritrosit membentuk rouleaux, sehingga eritrosit mengendap lebih cepat dan LED meningkat.

    Namun hasil LED juga dipengaruhi banyak hal selain inflamasi, termasuk:

    anemia, polisitemia, bentuk eritrosit, usia, kehamilan, temperatur, kemiringan tabung, getaran, waktu pemeriksaan, serta metode yang digunakan.

    Karena itu:

    LED tinggi bukan berarti pasti infeksi.

    LED normal juga tidak selalu berarti tidak ada inflamasi.

    Dan satu nilai LED tidak boleh digunakan sendirian untuk menetapkan diagnosis.

    Mungkin itulah hal menarik dari pemeriksaan sederhana ini.

    Kita hanya melihat eritrosit turun di sebuah tabung selama satu jam…

    tetapi di balik proses tersebut ada hubungan antara sel darah merah, protein plasma, inflamasi, kondisi pasien, dan kualitas proses laboratorium.

    Jadi lain kali ketika melihat rak Westergren berdiri diam selama satu jam…

    jangan diremehkan.

    Dia sedang bekerja. Hanya saja gaya kerjanya memang sangat santai. 😆


    Sumber Referensi

    Artikel ini disusun menggunakan rujukan utama dari International Council for Standardization in Haematology (ICSH) mengenai standardisasi dan metode rujukan ESR/Westergren.

    Informasi mengenai kegunaan klinis, persiapan pasien, dan interpretasi dasar mengacu pada MedlinePlus – U.S. National Library of Medicine.

    Pembahasan mengenai rouleaux, fibrinogen, faktor eritrosit, faktor preanalitik, metode otomatis, dan nilai rujukan menggunakan NCBI Bookshelf / StatPearls.

    Perbandingan LED dengan CRP juga mengacu pada tinjauan ilmiah mengenai penggunaan ESR dan C-reactive protein sebagai marker inflamasi.

    Catatan: Artikel ini dibuat sebagai materi edukasi. Nilai rujukan, jenis tabung, stabilitas sampel, prosedur pemeriksaan, serta aturan penerimaan atau penolakan spesimen harus mengikuti metode, instruksi produsen, dan SOP laboratorium masing-masing.

    Bagikan: Facebook X / Twitter WhatsApp
    ♥
    DUKUNG INTSIA GROUP

    Bantu kami terus berbagi dan berkembang.

    Artikel dan tools IntsiaGroup dapat digunakan secara gratis. Jika terasa bermanfaat, Anda dapat memberikan dukungan sukarela untuk membantu biaya hosting dan pengembangan konten berikutnya.

    Dukungan bukan pembayaran konsultasi, layanan medis, atau pembelian produk.
    Dukung via Saweria →

    admin

    Penulis di Intsia Group. Berbagi pengetahuan, pengalaman, dan ide yang bermanfaat.